Minggu, 10 Mei 2009

Biografi Pendiri SAMBAS


Suchari
membangun dunia untuk akhirat

BENIH HARAPAN
DI ZAMAN REKASA

Desa Losari, sebuah desa berjarak kurang lebih 30 Km dari kota Purbalingga, pasti tidak terdalam peta Jawa Tengah apalagi peta Indonesia. Namun penduduk juga ikut merasakan penderitaan dalam penjajahan Jepang karena mereka mengalami kemiskinan dan kebanyakan penduduknya hanya mengenakan pakaian dari bago atau karung goni. Di situlah kutu berkembang biak, sehingga membuat penduduk merasa gatal dan menjadi botak tanpa diketahui penyebabnya.
Makanan pun sulit didapat dan bisa sehari makan sekari tidak makan. Krisis pangan inilah yang menyebabkan para penduduk terkena penyakit oedema atau penyakit beri-beri atau busung lapar. Kondisi bangsa Indonesia sedemikian itu masih diperparah lagi dengan pengerahan secara paksa oleh Jepang untuk kerja rodi atau kegiatan romusha, kinrohosi dan wajib militer.
Pada masa sesulit itu istri pak Mulyawijaya yang bernama Siti Fatimah yang akan melahirkan anak yang ke 8 pada tanggal 28 Juni 1942. Tetapi pak Mulyawijaya masih cemas agar istrinya bisa melahirkan dengan lancar jika tidak akan dilarikan ke rumah sakit yang berada didesa Kali Kajar Kecamatan Kaligondang yang jaraknya sekitar 30 Km. Alhamdulillah, jabang bayi itu lahir dengan selamat meskipun dalam keadaan sederhana. Sempurnalah kebahagiaan Pak Mulyawijaya karena sudah delapan buah hati telah lahir di dunia ini, walaupun salah seorang sudah diminta kembali ke harimbaan-Nya.
Sekarang ada empat anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Doa yang selalu dipanjatkan, terutama seusai menunaikan sholat supaya kelak dewasa anaknya menjadi orang yang sholeh sholihah,berguna bagi masyarakat dan agama serta selalu mendoakan kedua orang tua.
Pak Mulyawijaya tidak terlalu njelimet member nama anak-anaknya. Nama-nama yang dipilih selalu singkat dan mudah dipanggil seperti Sugi, Gari, Gana, Jangi, Maryati, Mujena dan Narti. Anak ke delapan pin diberi nama Suchari dan dipanggil Chari. Orang Jawa bilang, cekak tur aos, singkat tapi berisi
Nama Suchari, dalam bahasa Arab yang artinya seorang yang penuh pesona atau seorang yang betah melek (sedikit tidur) yang menunjukan bahwa orang sedemikian adalah tipe pekerja keras.
Suasana pedesaan telah mengantarkan Suchari tumbuh sebagai bocah kampung yang bersahaja. Seperti anak-anak lainnya,dia bermain kelereng jika kawannya ramai bermain kelereng tetepi bila musim layang-layang dia pun ikut bermain laying-layang. Meskipun Suchari senang bermain, namun dia tidak pernah melupakan tugas-tugasnya. Setiap hari dia harus membantu ibunya mencari kayu bakar untuk memasak dan mancari rumput untuk makan 3 ekor kambingnya.
Tiba masanya Chari masuk sekolah dasar, waktu itu disebut Sekolah Rakyat(SR).Persyaratannya pun unik, anak bisa diterima sekolah jika tangan kanannya bisa menyentuh telinga kiri dengan cara lengan dan bahu kanannya dilintaskan di atas kepalanya.Beruntung Suchari mendapatkan dukungan sepenuhnya dari orang tua. Suchari mendapat bantuan peralatan sekolah yaitu sabak (papan hitam selebar buku untuk buku tulis) dan grip(alat untuk menulis diatas sabak) dari kakaknya yang sekaligus pengasuhnya yang bernama Pak Chasandi biasa dipanggil Gana, seorang pengusaha kecil.
Bisa sekolah merupakan anugerah besar . Sebab itu, beliau menerima keadaan apa adanya. Akhirnya dia berhasil menyelesaikanSR-Nya selama enam tahun. Tiga tahun di Losari dan tiga tahunnya lagi diselesaikan di desa Sumampir, 1,5 Km dari rumahnya. Di samping bersekolah di Sekolah Rakyat, Suchari juga ikut sekolah Arab (sekolah Diniyah) yaitu belajar membaca al-Qur’an di langgar atau di masjid kampungnya usai maghrib.

NAMANYA SEBAGUS KERJANYA

Usai menamatkan SR enam tahun di kampung halamannya, Suchari ingin sekali melanjutkan sekolahnya di SMP. Namun tetapi dia menyadari orang tuanya tidak mungkin sanggup membiayai. Apalagi harus pergi dan tentu saja kos di Purbalingga maka keinginan itu hanya tinggal keinginan. Akan tetapi tidak disangka-sangka, tiba-tiba pada suatu hari Pak Chasandi, menawari untuk sekolah di SGB. Asalkan Chari mau, kakaknya bersedia membiayainya.
Semua setuj dan Chari pun dengan tekad bulat berangkat ke Purbalingga untuk mengikuti test masuk SGB. Namun apa daya , Suchari harus menelan kekecewaan. Begitu juga orang tuanya dan Pak Chasandi (kakaknya) karena ternyata Suchari gagal mengikuti ujian masuk SGB. Beruntung, Chasandi berlapang dada menerima kegagalan adiknya.
Suchari tidak berpangku tangan merenungi nasib kegagalan massuk SGB,sehingga ketika diminta ayahnya untuk membantu berjualan tahu di pasar, dia langsung menurut. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga , mereka membuka usaha pembuatan tahu dengan peralatan tradisional dan seadanya. Dari pada anaknya menganggur,lebih baik ikut jualan tahu. Chari ditugasi berjualan tahu di beberapa pasar disekitar desanya sesuai jadwal pasaran. Pasaran Manis berjualan di pasar Losari, pasaran Pon di Sumampir dan pasaran Pahing, Wage , Kliwon di Bantarbarang. Jiak dagangannya tidak habis terjual di pasar, Chari tidak langsung pulang tetapi dia akan menjajakannya keliling kampung. Meskipun tidak juga habis baru dia bawa pulang , tidak mendapatkan keuntungan tetapi ayahnya menyambut dengan baik ,selalu bersyukur dan tidak pernah kecewa dalam keadaan apapun.
Meskipun hidupnya susah, Mulyawijaya sangat taat beragama,rajin menjalankan shalat lima waktu dan shalat tahhajud. Karena itu akan menjadi bekal di akhirat nanti. Usai berjualan tahu, Chari masih harus menjalankan tugas menyortir dan memilih bulu-bulu menthok di rumah kakaknya, Chasandi untuk di jual ke pengusaha Shuttlecock di Tegal. Barangkali pengalaman inilah yang membuat beliau menjadi orang yang ulet, tekun, teliti dan rapi dalam pembukun kelak ketika menjadi seorang pengusaha. Jika terus begitu tentu masa depannya kurang menjanjikan Akhirnya Chasandi mendapatkan gagasan sebaiknya Chari menjadi sopir aja. Penghasilannyan pun lumayan karena transportasi pun masih jarang. Dia pun mengikuti kursus mengemudi dan montir di Purbalingga.Chari disana kos di daerah Pritgantil di tempat seorang familinya, bernama Sandiwerja dari desa Bodas Karangjati.
Disana ia tingal bersama dua orang pelajar yaitu Slamet dan Taman. Setelah pulang kursus dia membantu di kos bersama-sama Taman dengan Slamet.Setelah 6 bulan Chari dinyatakan tamat tetapi ia tidak mendapatkan sertifikat tanda kelulusan yang penting sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman. Selama 2 minggu ia menjadi kernet kemudian ia baru di belikan oplet merk Studebaker dan menjadi sopir oplet dengan trayek Pengadegan Purbalingga pp.Pada tahun 1960 rumah Sandiwerja dijual kepada Chasandi dan mereka terpaksa pisah. Tiga bulan kemudian , Chari mencari Tamanagar kembali ke Pritgantil. Dan dia dipercaya memegang kunci rumah tersebut kemudian akan dibelikan keperluan yang dibutuhkannya. Mula-mula Taman disuruh mengantarkan pakaian kotor ke tempat tukang cuci tetapi dia malah ingin mencucinya sendiri, Chari pun mengizinkannya.
Selama 5 hari Chari jatuh sakit karena kelelahan sebagai supir oplet kemudian dia di bawa ke dokter. Chari terkena penyakit typus dan dia harus di opname sekitar 21 hari, Taman pun yang mengurus rumah dan mobil opletnya. Sejak itu Taman dianggap seperti adiknya sendiri. Setelah sembuh Chari terkena musibah lagi yaitu tertangkap polisi karena terlalu banyak membawa penumpang. Selama 6 hari chari di penjara ,setelah masa tahanannya habis dia disambut oleh teman seprofesinya yang tergabung dalam ISOS(ikatan Sopir-sopir Purbalingga). Mereka pergi ke tempat pemandian di Walik, Kutasari dengan iringan mobil sekitar 30 mobil untuk menghilangkan rasa sempit dan gerahnya penjara.

IFTITAH, PEMBUKA LEMBARAN
HIDUP BARU
Dia terlanjur punya hati dengan seorang gadis yang sering membantu orang tuanya di took dekat dengan pangkalan opletnya. Dia ingin memperistri putrid Pak Akhamd Rochadiyang biasa dipanggil Titah.Mungkinkah Pak Akhmad Rochadi bersedia mengambilnya sebagai menantu? Dia menyadari betul keadaannya itu. Pada hari yang teah ditentukan,Chasandi memberanikan berangkat ke Pengadegan untuk melamar anak Pak Akhmad Rochadi. Ternyata Pak rochadi belum memberikan jawaban yang pasti. Akhirnya dia pun bekerja seperti semula sambil menunggu jawaban. Karena belum ada kabar juga tentang lamarannya itu, Taman pun memberikan solusi untuk menulis surat. Dalam keadaan gelisah Chari belum ad tanda bahwa ayahnya Titah mau menjadikannya sebagai menantu.
Ada seorang Kiai yang bernama Eyang Makhrowi, beliau sangat dihormayi oleh Rochadi. Beliau menawarkan untuk tinggal di rumahnya dan memberikan nasihat supaya Chari rajin mengerjakan ibadahnya. Setelah hamper tiga bulan Eyang Makhrowi memberitahu kepada Chari bahwa Rochadi sudah menerima lamarannya.Namun belum bisa bersanding di pelaminan sebelum Titah tamat SKP. Setelah sabar menunggu tepat ketika Suchari berusia 23 tahun dan Titah berusia 17 tahun, mereka resmi menikah dan namanya menjadi Suchari Adi Mulyono. Tentu saja sebagai pasangan baru perlu adapatasi.
Lambat laun Titah mulai mengenal watak suaminya dan mulai bisa menyesuaikan. Hanya dalam satu tahun tepatnya pada tanggal 10 Februari 1966 lahirlah anak pertama yang diberi nama Eling Purwoko. Sesudah itu hamper selama 9 tahun berturut-turut dikaruniai 6 orang anak yaitu Puji Utami, Yuli Setiani, Aria Windarti, Warso hartono, Fidyah Susanti, Imawan Susanto. Harapan mereka memberi nama-nama yang baik supaya bisa member dorongan dan doa.

ANEH TIDAK SELAMANYA SALAH

Suchari menerapkan kedisiplinan berbeda jauh dari kebanyakan orang. Namum keanehan-keanehan Suchari telah terbukti menghasilkan buah yang gemilang. Dia sngat berwibawa di mata istrinya. Iftitah punya pengalaman yang tak kan terlupakan sebagai bentuk ketaatannya kepada suami. Karena dia bingung pergi menunggui ibunya atau taat pada suami. Dia pun taat pada suaminya tetapi karena dia taat pada suaminya ibunya akhirnya meninggal dan Suchari sebagai suaminya pun turut meras bersalah. Sedikit yang menyadari bahwa pendidikan anak dalam persepsi kebanyakan orang adalah tanggung jawab bersama. Walau pun Suchari menyerahkan urusan rumah dan anaknya kepada istrinya tetapi Dia juga berusaha menjaga keharmonisan keluarga dengan mengajak anak dan istrinya pergi ke tempat-tempat rekreasi. Upayanya untuk mendidik dan memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Suchari memang terkesan keras dan tegas sebagai suami tetapi tidak sampai membahayakan fisik mereka. Akan tetapi kadang-kadang bercanda dengan kemarahannya itu dan anaknya bisa membedakannya. Dia selalu menanamkan sikap serius, kerja keras dan benci berfoya-foya dan hura-hura, melarang anaknya merokok. Pendidikan agama selalu diutamakan karena dapt menjadi benteng paling tangguh terhadap kebobrokan moral. Suchari tidak suka anaknya menggunakan uang untuk hal yang tidak perlu, ketika Wrso Hartono minta dibelikan motor dia harus menandatangani perjanjian tertulis. Pantang Suchari membiarkan anaknya merasa sok atas kekayaan orang tuanya. Ketika Eling Purwoko Kembali ke Jogja, dia hanya diberi uang cukupuntuk membayar travel dan membawa sekarung bulu menthok.
Ketika Puji dan suaminya ingin membuka took emas, Suchari memberikannya modal tetapi modal itu harus dikembalikan untuk modal bergulir saudara-saudaranya. Berkat keseriusannya berusaha usahanya pun maju dan modalnya pun tidak usah dikembalikan kata Suchari. Suchari berpesan kepada Puji supaya tidak mengandalkan penghasilan suami. Warso Hartono putra kelima ditantang untuk membuktikan kesuksesannya dengan jerih payahnya dia dilepas di Jakarta. Untuk memenuhi kebutuhannya dia berprofesi sebagai sopir penjual knalpot dan lama kelamaan dia ingin menjual knalpot sendiri. Akhinya dia pun diberi modal untuk menjual knalpot.
Setelah 3 tahun modal itu sudah bisa dikembalikan dan masih ada sisa buat untuk membeli mobil. Ketika mobil dibawa pulang ternyata mobilnya diludahi oleh ayahnya didepan matanya. Sakit dan sedih, iftitah selalu sabar dan kemudian menghibur Wao. Wao ingin membuka Optik di Purworejo dan modal yang pernah dikembalikan diberikan lagi kepadanya.Setiap bulan ketika anak-anaknya yang kuliah di luar kota pasti diminta membuat laporan keuangan. Waktu libur Suchari mengajak anak-anaknya ke tempat penggilingan padi, kios dan tempat pemecahan batu. Kemudian harus membuat pembukuan keluar masuknya uang pada hari itu. Alasannya agar anak-anaknya bisa menghargai nilai uang dan tahu betapa mencari uang itu tidak mudah.

JALAN BERLIKU ITU BERUJUNG KESUKSESAN

Setelah berprofesi sebagai sopir dan punya oplet Suchari ingin berbisni rambut. Kemudian dia di kasih modal 1,5 kuintal rambut oleh Chasandi. Setelahbeberapa minggu ternyata usahanya maju tetapi itrinya mengatakan bahwa usaha ini kurang cocok dan pas. Akhirnya Suchari pun mencari ide lagi dan dia pun akan menjalankan usaha menghitung dan menyortir bulu menthok. Lalu itrinya di ajari bagaiman cara menghitung dan menyortir bulu menthok. Mantaplah sudah menjalankan bisnis ini. Daripada bulumethok afkir dibuang lalu dia punya ide untuk mempergunakannya untuk membuat shuttlecock. Sambil setor bulu menthok di Tegal dia pun mengamati caranya membuat shuttlecock. Petama-tama dia memanggil 4 orang yang berpengalaman dari Tegal, bahkan setelah berjalan dengan baik dia merekrut lagi 20 orang dari Purbalingga.
Ternyata momen tersebut sangat pas dengan keadaan yang ternyata pada saat itu banyak orang yang menyukai bulutangkis. Tetapi bisnis tersebut hanya bias bertahan selam 5 tahun karena banyak agen yang tidak membayarkan hasil penjualannya kepadanya. Lalu Titah mengusulkan untuk membuak kios untuk menjual sembako dan Suchari pun setuju. Jualan sembako pun berjalan, lalu ada tawaran dari instansi agar kiosnya memasok beras setiap bulan dan Suchari pun menyetujuinya. Lama kelamaan banyak karyawan yang minta uang daripada beras. Akhinya usaha tersebut berhenti. Lau diputuskan untuk berjualan sandal bandol. Namun tidak setip usahanya berjalan lancar. Ketika berkeliling naik mobil pribadi Suchari tertarik dengan sawah yang luas dan padi yang menguning. Dalam pikiran yang kreatif dia lalu berfikir untukmembeli tempat penggilingan padi.
Akhirnya sekitar tahun75-andia berhasil membeli tempat penggilingan padi dan ditempatkan di Penaruban dekat dengan sungai Klawing. Dia ingin punya tujuh lokasi penggilingan padi sesuai dengan jumlah anaknya. Usahanya pun maju cukup bagus dan setahun kemudian dia berhasil membeli satu unit lagi. Bahkan akhirnya dia berhasil memiliki 5 mesin penggilingan padi yang ditempatkan di Penaruban, Klapasawit, Kedungmenjangan, Karanggedang dan Karangmalang. Diseberang jalan ada tetangga seorang kontraktor. Tetangga tersebut sangat dekat dan saling mempercayai. Suchari pun belajar tentang seluk beluk pekerjaan sebagi kontraktor. Memang dia tidak mimpi dan tidak main-maindengan profesinya sebagi kontraktor. Maka segeralah dia mendirikan perseroan yang mula-mula akan diberi nama CV. SAM tetapi itu tidak boleh. Akhirnya namaitu diganti dengan nama CV. SAMBAS,singkatan dari Suchari Adi Mulyono Asli Banyumas.


Maaf ceritanya sampai di sini dulu

0 Comments: